Sukses

Penyebab Kebutaan Katarak di Indonesia Masih Tinggi

Liputan6.com, Jakarta Angka kebutaan di Indonesia akibat katarak masih cukup tinggi. Studi Validitas Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyebutkan angka kebutaan nasional mencapai 0,6 persen.

Sementara untuk tindakan operasi katarak sendiri Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Thailand.

"Angka operasi katarak kita masih rendah. Kalau bicara Asia Tenggara kita sangat ketinggalan dalam hal penanganan bagi penderita katarak," ujar M Sidik, Sekjen Perhimpunan Spesialis Dokter Mata Indonesia (Perdami) di Menara BCA, Jakarta, Jumat (6/3/2015).

Sidik menjelaskan untuk mengetahui tingkat operasi katarak memakai satuan yang disebut CSR (Cataract Surgical Rate). Untuk hal ini Permadi sedang berusaha keras menurunkan kebutaan katarak di Indonesia mencapai 2.000 CSR setiap tahunnya.

"Saat ini, CSR kita baru 700 mudah-mudahan tahun 2015 bisa kita tingkatkan menjadi 1.000 CSR. Kita masih kalah dari India yang mencapai 4.000 CSR," ujar Sidik.

Selanjutnya, Faktor penyebab buta katarak tinggi....

1 dari 2 halaman

1

Lebih lanjut, Sidik mengatakan penyebab tingginya kebutaan di Indonesia karena beberapa faktor. Mulai dari jumlah penduduk yang tinggi, jumlah dokter mata yang masih kurang hanya sekitar 1.600 orang, ditambah distribusinya yang tidak merata (kebanyakan berada di kota-kota besar), dan fasilitas kesehatan yang terbatas di daerah serta tentunya iklim tropis dengan paparan sinar matahari yang tinggi.

"Di daerah fasilitasnya masih kurang bahkan beberapa rumah sakit tidak ada alatnya. Padahal untuk melakukan operasi katarak dibutuhkan fasilitas yang memadai," jelas Sidik.

Selain faktor-faktor diatas, menurut Sidik pengetahuan masyarakat akan operasi mata katarak masih kurang. "Tidak semua penderita katarak mau dioperasi karena ketidaktahuan. Di sini dibutuhkan edukasi dari berbagai pihak," tambah dia.

Dalam hal pemberantasan buta katarak di Indonesia, Sidik mengatakan dibutuhkan juga peran swasta karena untuk memenuhi kekurangan fasilitas alat operasi tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah.

Sekjen Perdami ini pun menyambut baik sumbangsih PT Bank Centra Asia, Tbk (BCA) yang memberikan 13 alat operasi katarak dan 2 alat Biometri.

"Kami juga menyambut dengan sukacita bantuan 13 alat operasi katarak dan 2 alat Biometri yang diserahkan hari ini. Alat-alat ini tentunya akan memudahkan kami untuk melakukan operasi katarak. Semoga kerjasama ini dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan untuk memerangi kebutaan akibat katarak di Indonesia,” ujar dia.

 

Pemberian alat operasi katarak dan biometri ini dalam rangka ulang tahun BCA dan komitmennya dalam memberikan solusi dalam bidang kesehatan melalui program Bakti BCA Solusi Sinergi.

"Selamat ulang tahun ke-58 BCA, peranan BCA sangat penting untuk memberantas kebutaan di Indonesia. Semoga kerjasama ini menjadi langkah untuk mensejahterahkan masyarakat dan menurunkan angka kebutaan," tambah Sidik.

BCA Senantiasa di Sisi Anda.

(Adv)