Sukses

Kesuksesan yang Berawal dari Dua Karung Singkong

Liputan6.com, Jakarta Nama Christine Hakim telah dikenal banyak masyarakat Indonesia sebagai pengusaha oleh-oleh makanan khas Sumatera Barat. Berawal dari dua karung singkong, usaha yang dijalannya nya terus berkembang, hingga kini ia berencana untuk mendirikan mall sendiri.

“Kalau ke Padang tidak mampir ke toko Christine Hakim, berarti Anda belum ke Padang. Kalau sekembalinya dari Padang tidak membawa keripik balado Christine Hakim, berarti ada yang ketinggalan,” ujar Christine Hakim (59), di depan gerainya yang berlokasi di Jalan Nipah, Kota Padang, Sumatera Barat.

Christine Hakim, tak lain dan tak bukan merupakan pemilik brand oleh-oleh hidangan khas Sumatera Barat. Wisatawan manapun pasti sudah tak asing lagi dengan oleh-oleh khas Padang yang dijual Christine Hakim dengan merek namanya sendiri. “Kalau dulu hanya keripik balado saja, sekarang ini sudah banyak variasinya, seperti keripik cabe hijau, keripik cabe rawit, keripik cabe durian, dan lain-lain,” kata Christine.

Inovasi menjadi salah satu hal yang tak pernah luput dari upaya Christine Hakim dalam meningkatkan usahanya. Meskipun produk keripiknya laris manis di pasaran, bukan berarti ia langsung merasa puas. Oleh karena itu, ia mulai memproduksi makanan lain. Beberapa di antaranya adalah rendang daging, rendang ikan, dendeng batokok, dan bumbu masakan padang lainnya yang dikemas dalam botol higienis dan kedap udara.

“Saya juga menjual bumbu jadi yang sangat praktis untuk wanita-wanita karir biar mereka bisa memasak sendiri di rumah. Macam-macam, ada bumbu kalio, ayam bakar, asam padeh dan gulai,” tambahnya.

>>> Selanjutnya Pergulatan Seorang Christine Hakim

1 dari 4 halaman

Pergulatan Seorang Christine Hakim

Christine tak serta-merta menjadi pengusaha besar makanan khas Sumatra Barat. Perjalanan bisnis Christine Hakim bermula pada tahun 1980, dimana saat itu, ia bahkan belum memiliki merek untuk produk-produknya. 25 tahun setelahnya, nama sekaligus merek Christine Hakim telah tersohor di berbagai pelosok Indonesia.

“Saya terbiasa bekerja keras dari kecil. Ayah meninggal saat saya berusia tiga tahun. Sejak itulahhanya ibu yang membesarkan kami, apalagi kami enam bersaudara. Kami semua bahkan tak sempat lulus Sekolah Dasar (SD),” kenang Christine.

Adalah kakak Christine, yang memiliki inisiatif untuk berjualan. Terpikirlah sebuah ide untuk membuat keripik balado kemasan yang bisa dititipkan di warung-warung tetangga. “Keripik balado dipilih karena bahan bakunya mudah didapat, selain juga tak perlu modal besar,” tuturnya.

Saat itu, ia dan kakak-kakaknya membuka usaha kecil-kecilan. Semua memilikitugas serta tanggung jawab masing-masing. Christine, yang dikenal lincah dan berani sejak kecil, bertugas memasarkannya ke warung-warung. Hal itu berlanjut hingga tahun 1990, dimanaChristine yang telah berusia 33 tahun, bertemu dengan jodohnya, Hosman Salim.

Menemukan jodoh tak selalu berarti berarti bahwa kondisi finansial akan menjadi lebih mudah dan ringan. Pasalnya, sang suami saat itu tidak memiliki pekerjaan, tapi Christine tidak merasa khawatir, karena ia adalah seorang pekerja keras. Pada akhirnya, keduanya saling bahu-membahu membuat keripik balado. “Saat itu, belum juga ada brand. Kami juga sudah berpisah dengan usaha kakak,” paparnya.

Christine bercerita bahwa produksi awalnya dimulai dengan modal yang minim. Kala itu, ia hanya menyiapkan bahan dua karung singkong, dua kaleng minyak goreng, cabai merah, dan gula pasir. Dengan penuh kesabaran, ia bersama suami membuat keripik balado dengan bantuandua orang pekerja. Itu pun mereka lakukan sambil merawat anak.

"Tahun 1994, kami baru memiliki brand sendiri, memakai nama saya. Pemasarannya pun gencar, tapi masih dari mulut ke mulut. Konsumen mulai berdatangan biarpun pada waktu itu kami masih tinggal di dalam gang,” imbuhnya.

Untuk menjaga bisnisnya tetap berjalan, Christine berkomitmen untuk senantiasa jujur dan rajin. Ia juga berusaha menjaga kualitas keripiknya, termasuk ketepatan hasil produksi. “Dari hasil yang kami dapat, ada prinsip dan komitmen yang kami terapkan. Begini, berapapun nilai yang didapat akan kami jadikan nilai sepuluh. Nilai ini dipecah menjadi dua bagian. Tujuh untuk disimpan, sedangkan tiga boleh digunakan,” jelasnya lagi.

Demi menerapkan hal itu, Christine dan keluarganya rela hidup sederhana. Ia banyak menabung untuk dapat memajukan bisnisnya. Di awal bisnis, tak sekali pun ia berani berhutang. Walau nominalnya tidak seberapa, usahanya didirikan dan dijalankan menggunakan modal pribadi.

"Dari tahun ke tahun kami selalu meningkatkan rasa keripik balado ini menjadi rasa yang gurih dan enak. Perlu waktu lama juga. Tahun 1999, saat usaha kami menginjak tahun kesembilan, rasanya baru pas,” tambah Christine.

>>> Selanjutnya Kunci Sukses Christine

2 dari 4 halaman

Kunci Kesuksesan Christine Hakim

Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintis Christine semakin meningkat. Begitu pula persaingan dengan usaha toko oleh-oleh di Padang.

“Di Padang, toko oleh-oleh bukan hanya Christine Hakim. Tapi, saya percaya, bahwa nama kami terlanjur melekat di masyarakat. Untuk itulah, saya tidak takut dengan persaingan, apalagi kami rajin berinovasi,” ujarnya.

Contohnya, jika dulu ia hanya membuat keripik balado merah, kini Christine juga memproduksi keripik balado hijau, durian cabai, rasa original, dan segala jenis camilan lainnya. Ia menginginkanyang namanya “keluar dari kebiasaan”. Dengan pola pikir cerdas, Christine Hakim mampu menangkap peluang yang ada.

“Kita harus maju terus, kalau tidak kita akan ketinggalan. Jika pesaing maju satu langkah, kita harus maju dua langkah,” tegasnya.

Tak tanggung-tanggung, pada tahun 2005 hingga 2006, Christine menjadi pengusaha oleh-oleh pertama yang berani memasang baliho untuk mengiklankan toko sekaligus produk-produk miliknya.

“Waktu itu masih jarang baliho, tapi saya sudah pakai. Letaknya harus strategis. Waktu itu saya pakai jasa baliho yang terletak dekat dengan bandara, semacam baliho selamat datang dan sampai jumpa,” terangnya.

Pada baliho berukuran 10 x 5 meter tersebut, Christine sengaja memajang nama toko oleh-olehnya. Ya, lengkap dengan foto dirinya memakai busana adat Sumatera Barat dan rumah khasnya, Rumah Gadang. Tertulis pula sebuah kalimat berbunyi ‘Selamat datang di ranah Minang, kota Padang tercinta. Jangan lupa oleh-oleh Christine Hakim’.

Selain itu, Christine Hakim menjadi orang pertama yang berani mengganti penggunaan kantong kresek dan kardus bekas menjadi kantong dan kardus dengan merek sendiri. Meskipun terdengar sepele, Christine yakin bahwa upaya tersebut memberikan gengsi tersendiri bagi para pembeli yang membawanya.

Kantong dan kardus ini tak hanya mempromosikan keripik dan nama Christine Hakim saja, tetapi juga nama besar Sumatera Barat dengan adanya gambar rumah gadang. Bukan itu saja, demi memperkuat branding, Christine juga rela membuat kemasan khusus bergambar dirinya dan rumah khas Sumatera Barat tersebut.

“Kemasannya lebih mahal, tapi orang akan berpikiran kalau produk saya lebih berkualitas. Lagipula harga produk saya memang lebih mahal dari produk orang lain. Ini salah satu cara pemasaran. Kalau yakin produk milik kita lebih baik dan enak, soal harga nomor dua,” katanya lagi.

Kini, di gerai-gerai miliknya, calon pembeli tak hanya dapat menemui produk khusus Christine Hakim. Banyak variasi bisa didapatkan pembeli hasil buatan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Sumatera Barat.

“Saat ini saya membawahi 150 UKM di Sumbar dengan jumlah lebih dari 500 produk yang bisa ditemukan di sini. Mereka bisa menitip produk dan menerima uang langsung asal cita rasanya harus sesuai dengan lidah Christine Hakim, harus berkualitas dan enak,” imbuhnya.

>>> Selanjutnya Hasil Jerih Payah Christine

3 dari 4 halaman

Hasil Jerih Payah Christine

Namun, semua kesuksesan tersebut tak membuat Christine lupa diri. Dengan 150 UKM yang bernaung di bawah namanya, Christine terus membantu dan mengedukasi mereka agar dapat bersama-sama meraih kesuksesan. Bahkan, ia juga membidani berdirinya Koperasi Wanita Christine Hakim (KWCH).

Upaya lain yang dilakukan Christine adalah menjaga hubungan baik dengan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan yang telah terjalin sejak 2004 silam. Sambil terus mengembangkan bisnisnya, ia hampir tak pernah absen dari agenda pelatihan dan fasilitas yang diadakan pihak kementerian.

“Saya merasakan dengan merangkulnya UKM, saya akan bertambah berkembang dan maju, maka itu saya berani membayar semua produk yang masuk di toko saya, tidak ada yang konsinyasi. Asal produknya berkualitas, bermutu, dan higienis menurut standar lidah saya,” ujarnya.

Tentunya semua pengembangan bisnis yang dijalankan Christine membutuhkan modal yang tidak sedikit. Sebagai pengusaha sukses, Christine memilih BCA Prioritas untuk mengakomodir segala kebutuhan perbankan.

“Dari dulu, kami mendapat dukungan dari BCA, mulai dari menabung hingga alat transaksional. Sangat mudah sekali. Kini pemasaran kami juga sudah menjalar ke penjualan online, pembeli bisa mentransfer uangnya bila berminat dengan produk kami,” pungkas Christine.

Tak lama lagi, kota Padang akan memiliki sebuah mall baru. Yang membuat hal ini begitu luar biasa adalah karena Christine merupakan pendiri sekaligus pemilik dari pusat gaya hidup tersebut.

“Saya menamainya CHIP, Christine Hakim Idea Park. Mungkin pembangunannya selesai di akhir tahun nanti. Di sana lengkap, ada sentra kuliner, budaya, dan banyak lagi,” ucapnya sambil tersenyum optimis.

BCA Senantiasa di Sisi Anda.

(Adv)