Sukses

Saatnya Menguatkan Jangkar

Liputan6.com, Jakarta Dalam situasi buruk, peluang selalu ada. Kisah Nabi Yusuf juga harus terus menjadi pegangan, bahwa akan selalu ada saat naik maupun turun, tak terkecuali dalam ekonomi. Ini sejumlah proyeksi dan tips menyikapi ketidakpastian ekonomi yang sekarang terjadi.
Jakarta, November 2015

Dalam satu dua tahun ke depan, gairah perekonomian Indonesia diperkirakan belum akan pulih. Ibarat di samudera, Indonesia adalah kapal kecil yang kini sedang diayun gelombang karena kapal-kapal besar sedang berselisih jalan dalam waktu bersamaan. Meski demikian, optimisme mutlak dijaga.

“Saya lihat 4,5 persen sampai 5 persen adalah pertumbuhan yang cukup sehat dan cukup baik sampai tahun depan,” kata Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Raden Pardede, dalam wawancara pada medio Oktober 2015. Pengaruh dari ketidakpastian dan dinamika perekonomian global pada 2015, imbuh dia, masih akan berlanjut pula pada 2016.

Menurut Raden, pada 2016 perekonomian negara maju memang akan mulai pulih. “Ada pertumbuhan, tetapi tak akan robust,” ujar dia. Ekonomi Amerika, lanjut Raden, akan pulih lebih baik dibandingkan Eropa atau Jepang. Adapun ekonomi Asia akan sangat terpengaruh dengan perkembangan situasi di China.

Pada kondisi demikian, papar Raden, penentuan prioritas dan fokus merupakan kunci. “Tidak bisa pada saat yang sama kita ingin suku bunga turun, keuangan terbuka, dan rupiah stabil,” ujar dia memberikan contoh. “Harus dipilih,” tegas dia. Raden pun menegaskan, bahkan China dengan cadangan devisa 3 triliun dollar AS tak bisa memastikan nilai tukar mata uangnya akan bergerak seperti apa di masa mendatang.

Raden mengingatkan, rupiah adalah soft currency di tataran pasar keuangan global. “Kita ini negara kecil. Ibaratnya di tengah samudera luas, di kiri kanan kita sedang berpapasan kapal-kapal besar, kapal-kapal induk,” ujar dia memberikan gambaran situasi. Dalam kondisi itu, memakai pengibaratan kapal itu, yang bisa dilakukan oleh kapal dengan kru-nya adalah memastikan biduk berlayar stabil.

“Jangan harapkan rupiah stabil dalam tempo singkat,” tegas Raden. Berada di tengah ketidakpastian perekonmian global—terutama di persimpangan antara pemulihan ekonomi Amerika dan Eropa serta perlambatan ekonomi China—Indonesia laiknya perahu yang terseret gelombang dan tak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh awak di dalamnya. “(Saat ini), kita harus punya jangkar yang kuat dulu,” lagi-lagi tegas Raden.

Dari situ, prioritas yang harus didahulukan sekarang adalah memperbaiki struktur perekonomian Indonesia. “Perbaiki produktivitas, daya saing. Itu (ibarat) jangkar. Supaya tak (lagi) terombang-ambing,” ungkap Raden soal langkah yang harus dijalankan pemerintah dan seluruh anak bangsa.

“Kalau sudah fokus itu, dalam satu dua tahun gelombang ini, kita punya jangkar, coba stabilisasi dan sekaligus konsolidasi,” harap Raden. Lagi-lagi masih memakai ibarat kapal, lubang yang ada di badan bahtera ditambal terlebih dahulu, mesin direparasi, lalu awak kapal dibuat lebih sehat. “Jadi ketika kapal-kapal besar sudah berlalu, kita juga bisa kembali melaju lebih cepat,” kata dia. Memaksakan diri “berjibaku” dengan kapal besar, ujar dia, hanya akan menghabiskan sumber daya kapal kecil.

Raden pun berharap para pengambil kebijakan tak terlalu banyak mengomentari atau berfokus pada hal-hal yang memang sedang berada di luar kendali kita sendiri, salah satunya nilai tukar rupiah itu tadi. “Selama ini kita bicara hal-hal di luar kontrol kita. Kita ikut-ikutan saja ngomong. (Padahal), kita tak bisa (bertindak) seperti analis di situ. Teman-teman, berhentilah menjadi analis dan fokus pada hal-hal yang memang ada di kontrol kita. Benahi juga APBN agar lebih efektif dan efisien,” harap dia.

Baca lanjutannya...

Sama Sekali Tidak Buruk

1 dari 4 halaman

Sama Sekali Tidak Buruk

Setali tiga uang, Raden melihat industri juga akan berhadapan dengan banyak tantangan. Meskipun, tegas dia, peluang tetap saja ada bila jeli. Dia memberikan catatan, komoditas yang selama ini sangat tergantung pada pasar China masih akan mengalami persoalan. “Semua komoditas. Dari mineral, batubara, nikel, besi, alumunium, minyak sawit, dan karet. Itu akan cukup lama, bisa tiga atau empat tahun ke depan. Kita harus bersiap,” papar dia.

Dari sektor komoditas, lanjut Raden, industri yang diperkirakan juga bakal seret adalah properti dan sektor terkait barang mewah. “Kekayaan selama ini adalah pendapatan dari komoditas. Termasuk untuk bikin mal, perumahan, hotel, juga barang mewah seperti mobil, sepeda motor. Semuanya luberan dari komoditas,” ujar dia. “Setelah komoditas yang terimbas (kondisi sekarang) paling besar, properti yang juga akan terkoreksi. Kita sedang kembali ke situasi normal,” imbuh Raden.

Setelah berhadapan dengan gelombang seperti sekarang, Raden berpendapat pulihnya sektor manufaktur merupakan harapan untuk masa depan perekonomian Indonesia. Sektor ini, ujar dia, sempat “terlupakan” saat komoditas meledak. “Saya pikir, kita ini akhirnya akan kembali ke basic,” ujar Raden soal prospek industri dalam jangka pendek dan menengah.

Dengan proyeksi tersebut, infrastruktur menurut Raden merupakan sektor yang bakal digeber. Lalu, sebut dia, sektor konsumsi bakal kembali menjadi penyangga perekonomian. Dia mengingatkan, 60 persen pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia adalah dari sektor konsumsi. “Ini yang membuat kita beda dengan China,” ujar dia.

Sebagai pembanding, papar Raden, konsumsi menyumbang 35 persen saja bagi PDB China. Di negeri Tirai Bambu, PDB mendapat topangan 48 persen dari investasi, sementara Indonesia hanya 30-an persen. Karena itu, ketika investasi di China terkoreksi, perekonomian negara itu pun ikut guncang. “Kita, investasi juga turun, tapi karena konsumsi relatif stabil maka kita relatif bertahan sejauh ini. (Pertumbuhan ekonomi) 4,5 persen sampai 5 persen sama sekali tidak buruk di tengah situasi perekonomian sekarang,” tegas dia.

Raden pun mengingatkan, mendongkrak pertumbuhan ekonomi pun tak seharusnya melulu mengandalkan ekspor. Permintaan domestik, ujar dia, juga mutlak dinaikkan. “Kata kuncinya, kembali ke logistik, supply chain harus efisien. Biaya logistic, transaksi, infrastruktur, administrasi, (harus dipangkas),” ujar dia.

Baca lanjutannya...

Menata Ulang Sektor Keuangan

2 dari 4 halaman

Menata Ulang Sektor Keuangan

Satu catatan lain dipaparkan Raden, terkait sumber pendanaan proyek infrastruktur. Dia menegaskan, perbankan secara alami bukanlah sumber pembiayaan proyek infrastruktur, apalagi berjangka panjang. “Kecuali kalau ada bank khusus infrastruktur,” tegas dia. Kalaupun perbankan komersial sekarang turut berperan membiayai proyek infrastruktur, seharusnya sifatnya hanya sementara. “Jadi bridging saja,” tegas dia.

Menurut Raden, sumber pembiayaan proyek infrastruktur yang cenderung berjangka waktu menengah panjang adalah pasar modal, yaitu dari bursa saham, surat utang, asuransi, hingga dana pensiun. “Itu (sumber pendanaan) jangka panjang. Baru matching. Kalau bank biayai infrastruktur, mismatch,” ungkap dia.

Raden menyarankan pemerintah mulai menyiapkan bank pelat merah menjadi bank khusus, termasuk bank infrastruktur. Ketika perbankan swasta sudah dapat menjalankan fungsi intermediasi dengan baik, maka sudah saatnya bagi Pemerintah menghadirkan bank industri maupun bank infrastruktur. “Pemerintah punya target pembangunan. Kalau memang fokus pada infrastruktur, bikin bank infrastruktur, biar mismatch teratasi,” kata dia.

Kembali ke sumber pembiayaan jangka panjang, Raden melihat pasar modal tidak berkembang karena selama ini dana dari dalam negeri sangat terbatas. “Pemupukan dana terbatas. Menabung harus digalakkan kembali secara sophisticated, seiring dengan penegakan hukum dan memastikan inflasi tetap rendah,” ujar dia.

Sekarang masyarakat cenderung berinvestasi ke properti alih-alih memupuk dana pihak ketiga maupun ke pasar modal—termasuk asuransi dan dana pension—menurut Raden karena ketidakpastian masih tinggi yang antara lain dipicu angka tinggi inflasi. “Tinggal dihitung berapa return ketika membeli properti dan berapa deposito, inflasi berapa. Inflasi 5-10 persen, sementara (bunga) deposito 5-6 persen, berapa real return-nya?” papar dia.

Pada saat yang sama, penempatan dana ke sektor properti menurut Raden juga memicu kenaikan harga yang berlanjut. “Pola saving ini harus diperbaiki. Inflasi harus dikendalikan biar orang taruh dana di asuransi dan dana pensiun. Harus restrukturisasi agar asuransi dan dana pensiun aman, (sehingga menjadi) dasar pasar modal berkembang,” ungkap dia.

Menurut Raden, pasar modal pada dasarnya tetap saja pasar seperti tempat orang berjualan kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk membenahinya, yang perlu ditata pertama kali adalah sumber persoalannya. “Jangan sampai rumah tangga simpan uang di bawah bantal atau ke properti (saja), tidak di bank. Utamanya, simpanan harusnya paling banyak di asuransi dan dana pensiun,” tegas dia.

Baca lanjutannya...

Menjaga Asa

3 dari 4 halaman

Menjaga Asa

Terlepas dari semua proyeksi yang tak menggambarkan ekonomi bakal menggeliat apalagi bergairah, Raden menyatakan harapan bukan berarti pupus. Merujuk kisah Nabi Yusuf yang ada dalam semua kitab suci agama samawi, dia mengatakan selalu ada saat pasang dan sebaliknya surut. “Yang penting bagaimana menyiapkan diri untuk menghadapi masa surut,” kata dia.

Raden pun berkeyakinan selambat-lambatnya perekonomian sekarang, kondisinya sama sekali tak bisa disandingkan dengan situasi pada 1997-1998 saat krisis moneter menghajar Asia. Faktor terpenting sebagai indikator kedua era itu adalah sektor perbankan.

“Perbankan sekarang lebih kuat. Pertama, dari exposure-nya,” sebut Raden. Dulu, kata dia, banyak perbankan mengeluarkan surat utang berdenominasi valuta asing lalu disalurkan sebagai kredit dalam rupa rupiah.

Perhitungan selisih suku bunga pinjaman dari luar negeri dan suku bunga kredit ke pasar domestik pada saat itu, menjadi godaan bagi perbankan meraup untung tanpa harus bekerja keras. Terlebih lagi, imbuh Raden, saat itu kurs rupiah mengenakan sistem managed floating, yaitu membatasi depresiasi maksimal 4 persen.

“Sekarang tak bisa lagi begitu. Sekarang perbankan sangat sedikit yang tergantung pendanaan dari luar. Dulu, begitu ada devaluasi (ketika terterjang krisis, perbankan) langsung mati, liabilitas meningkat beberapa kali lipat, dengan kurs dari Rp 2.000-an menjadi Rp 16.000 per dollar AS,” papar Raden.

Pembeda kedua dengan situasi pada era krisis moneter, sebut dia, adalah governance perbankan. Dulu, ungkap dia, pemilik bank bisa jadi adalah pemilik grup usaha yang mendapat pembiayaan dari bank yang dimilikinya itu. “Sekarang sangat ketat. Sekarang governance lebih baik,” kata dia.

Kembali ke cerita Nabi Yusuf, pelajaran yang harus dipetik dan relevan dengan perkembangan perekonomian sepanjang masa, adalah jangan pernah lupa menyimpan ketika ekonomi sedang baik. “Disiapkan sebagian untuk masa ‘paceklik’. Akan terus seperti itu,” ujar dia. Tantangan yang jamak terjadi, ungkap Raden, saat “panen” kita kerap lupa diri dan berpikir situasi akan terus-menerus baik.

Soal tips menghadapi situasi ekonomi pada hari-hari ini, Raden menyebut cost efficiency sebagai jurus yang bisa dijalankan. “Kita tak bisa lagi hambur-hamburkan uang. Resources yang terbatas itu harus kita gunakan seproduktif mungkin. Itu kuncinya,” kata dia.

Tips berikutnya, lanjut Raden, adalah memperbaiki diri dan menyiapkan sumber daya manusia menjadi lebih baik. “Ketika tak banyak kegiatan, sekarang saatnya training. Kita didik dia pada saat seperti sekarang,” sebut dia.

Terakhir, Raden menegaskan, peluang juga tetap selalu ada dalam situasi sesulit apa pun. “Justru (pada kondisi sekarang) harus investasi. Dalam keadaan turun begini, ada saatnya kita investasi secara selektif dan smart, untuk mendapatkan return sangat tinggi pada saatnya nanti. Kalau sudah kembali naik baru investasi, terlambat,” ungkap dia.

Raden menegaskan, pada titik perekonomian mendekati dasar siklus—kerap disebut hit the bottom—kita harus jeli melihat peluang. “Karena nanti akan ada sektor-sektor baru yang akan naik dan di situlah kita harus menempatkan investasi,” tutur dia.

(*/GR)